Laman

Tidak perduli dengan perlakuan orang lain terhadap kita. Seburuk apa pun itu, tetaplah berlaku baik dan menghormatinya. Itu bukan karena siapa mereka, tapi untuk menunjukkan siapa kita.                               Tidak perduli dengan perlakuan orang lain terhadap kita. Seburuk apa pun itu, tetaplah berlaku baik dan menghormatinya. Itu bukan karena siapa mereka, tapi untuk menunjukkan siapa kita.                               Tidak perduli dengan perlakuan orang lain terhadap kita. Seburuk apa pun itu, tetaplah berlaku baik dan menghormatinya. Itu bukan karena siapa mereka, tapi untuk menunjukkan siapa kita.                              Tidak perduli dengan perlakuan orang lain terhadap kita. Seburuk apa pun itu, tetaplah berlaku baik dan menghormatinya. Itu bukan karena siapa mereka, tapi untuk menunjukkan siapa kita.                              Tidak perduli dengan perlakuan orang lain terhadap kita. Seburuk apa pun itu, tetaplah berlaku baik dan menghormatinya. Itu bukan karena siapa mereka, tapi untuk menunjukkan siapa kita.                          Tidak perduli dengan perlakuan orang lain terhadap kita. Seburuk apa pun itu, tetaplah berlaku baik dan menghormatinya. Itu bukan karena siapa mereka, tapi untuk menunjukkan siapa kita.

Minggu, 10 Juni 2012

Kalo gua gini, emang kenapa???


Gua adalah orang yang biasa2 aja menurut gua. Gua suka ngerasa gak PD. Gua ga cantik, gua ga pinter, gua ga tajir, gua ga populer. Pokoknya ga ada hal istimewa yang bisa gua tonjolin. Gua suka ngerasa minder ngeliat temen2 gua yang bokap nyokapnya punya banyak uang, bisa mbeliin apa aja yang mereka mau. Sementara gua? kalo mau sesuatu, biar udah ngemis2, guling2an di lantai, mpe terjun bebas dari atap rumah pun, tetep ga bakal dikasih. Ada juga sih temen gua yang biasa2 kayak gua tapi popular, tapi itu karena dia cakep. Di benak gua selalu bilang “enak banged ya nasib orang2 cakep”. Sementara gua??? Biasa aja.

Sampe suatu ketika, saat gua njalanin hidup gua yang biasa2 ini, gua terlibat dalam suatu percakapan yang sebenarnya ga gua sengaja. Semuanya murni terjadi karena Tuhan sudah mengkondisikannya. Kebetulan saat ntu gua disuruh nyokap mesen makanan buat arisan. Kebetulan lagi rame, jadi gua nungguin bentar sambil duduk2 sendiri. Ga nyangka ternyata di deket gua ada dua orang cowok yang gua kenal, lagi cerita2. Ga tau deh apa yang diceritain. Males nimbrung ama mereka.
Mpe pada suatu topik yang ga sengaja gua denger (frek. Suara >80 desibel). Mereka lagi bahas tentang persamaan mereka, yaitu sama2 Jomblo. Sebenernya umur mereka udah termasuk kategori “urgent” tapi jangankan buat married, pasangan aja belum ada.

Ya, ya, yaaa, singkat cerita, topik pembicaraan itu membawa mereka ke hadapan gua. Mereka nyamperin gua n mulai ngajak gua terlibat dalam permasalahan mereka yang sebenernya dalam hati gua udah tau jawaban dari permasalah mereka. Ya jelas mereka ga laku, karena mereka kategori orang yang hmmm, ya gitu deh. Ujung-ujungnya mereka nyuruh gua ngeliatin mereka, terus sambil nanya “apa lagi kurangnya kami???”.Bingung deh gua jawabnya.

“kurang ganteng??? Ia. Kurang duit??? Ia. Kurang putih? Ia. Kurang berpendidikan? Kurang cerdas? Itu pun juga Ia. Terus apa lagi??? Kan semua kekurangan ada di kami, terus apa lagi yang kurang dari kami??? Semua kekurangan kami punya. Ia ga???”
Mereka bilang itu sambil tertawa lepas, seolah-olah itu bukanlah inti dari permasalahan mereka.
“Kalo disuruh milih, pasti kita pengen terlahir sempurna tanpa cela. Dan dilahirkan dari keluarga kaya raya. Tapi yang dikasih ya begini, jadi ya nikmatin aja”, kata mereka sambil cekikikan.

Wow. Seketika itu mereka ngeluarin sinar-sinar gitu. Mereka jadi bercahaya dengan lingkaran putih di atas kepalanya (bukan kejadian yang sebenernya. Gua lebay). Gua jadi ngerasa mereka itu malaikat yang dikirim Tuhan buat nyadarin gua. Oh God, betapa ga bersyukurnya gua selama ini. Gua selalu bandingin diri gua ke orang-orang yang lebih dari gua. Dan itu jadiin gua kerdil banget dalam pemikiran n nyiksa diri gua banget.

Padahal nih ya, kalo dibandingin, gua nasibnya jauh lebih beruntung dari dua orang cowok yang sedang ada di hadapan gua ini. Tapi gua ga bisa berpikiran se-great mereka. Kasian banget gua.
Mereka yang tadinya menurut gua “ga” banget berubah jadi “yes” banget. Disaat mereka bisa menerima diri mereka apa adanya tanpa keluh kesah, bahkan sanggup menertawakan kekurangan mereka, disaat itulah mereka menjadi pribadi-pribadi yang unik dan menarik di mata gua. Itu jadi kelebihan mereka.
Gua bener-bener malu ama mereka. And semenjak itu gua minta ampun ama Tuhan, dan gua juga jadi kena dampak dari pikiran positif mereka. Pola pikir gua jadi berubah. Mereka hebat, bisa ngerubah gua, pikiran positif mereka udah nolong gua and gua juga mau jadi kaya mereka karena di mata gua sekarang, orang-orang seperti merekalah yang dikatakan “kereennnn abisss”, yaitu orang-orang yang berdampak walau hanya dari obrolan2 ringan di sudut warung makan.

Bukan BAGAIMANA kalo gua gendut, tapi EMANG KENAPA kalo gua gendut???
Bukan BAGAIMANA kalo gua item, tapi EMANG KENAPA kalo gua item??
Ato apalah yang lain. Yang penting, Bukan BAGAIMANA, tapi EMANG KENAPA??? Hehehe, enjoy your life friends…


Rabu, 23 Mei 2012

Experience is the best teacher

John Grisham ditolak oleh 16 agen dan 30 penerbit sebelum menerbitkan lebih dari 15 novel laris versi New York Times. Oprah Winfrey yang diturunkan posisinya dari penyiar berita sore menjadi pembawa acara talkshow siang hari, yang akhirnya menjadi program bernilai US$150 juta yang ditayangkan secara internasional. Mohandas Gandhi yang pemalu tetapi mengubah dirinya menjadi pemimpin kemerdekaan India. Suze orman yang terlilit utang besar sebelum menemukan pentingnya kekayaan spritual, menciptakan kerajaan multijuta dollar yang dilandasi oleh nasihat financial yang luar biasa yang diperoleh dari pengalaman pribadi.

Tokoh-tokoh tersebut pada awalnya mengalami rentetan pengalaman yang tidak menyenangkan; gagal, ditolak, ditertawakan. Namun, pengalaman pahit telah membentuk mereka menjadi pribadi yang kuat dan hebat. John Keats berkata "jangan pernah patah semangat karena kegagalan. Bisa jadi ini merupakan pengalaman yang positif. Kesalahan akan membuat kita berusaha mencari yang benar dan setiap pengalaman akan menunjukkan pada kita bentuk-bentuk kesalahan yang nantinya akan kita hindari. "Ya, hidup itu serangkaian pengalaman yang akan membuat kita lebih besar, jika kita menanggapinya dengan benar.

Bila anda telah mencoba dan gagal, bila impian anda tidak terlaksana, bila saat-saat keemasan anda tidak berlangsung lama, luangkanlah waktu untuk merenung, kemudian hadapilah. Hargailah diri anda sendiri dan berterimakasihlah atas pengalaman anda. Karena pengalaman adalah guru yang paling baik bagi hidup ini.


Anda memerlukan sebanyak mungkin pengalaman pahit
untuk melahirkan  Keunggulan (Richard Nixon)

Be a winner Like Me (Imelda Saputra).